NSUNGAI TANANG – Ada pemandangan unik sekaligus mengocok perut dalam tradisi Lebaran tahun ini di Jorong Pandan Gadang, Nagari Sungai Tanang. Jika biasanya rombongan Amak-amak (ibu-ibu) yang berkeliling kampung hanya mengincar silaturahmi dan mencicipi kue rayo (lebaran) , kali ini mereka dibuat heboh luar biasa oleh kejutan "THR Fantastis".
Bukan ratusan ribu, melainkan selembar uang kertas Rp 1.000 baru yang masih licin!
Tradisi Lebaran keliling kampung ini memang sudah menjadi agenda rutin di Jorong Pandan Gadang dalam beberapa tahun terakhir.
Rombongan Amak-amak ini berjalan dari rumah ke rumah dengan dua misi utama yaitu untuk mempererat Silaturahmi: Menjaga kekompakan antar warga di hari kemenangan.
Menggalang Sumbangan: Mengumpulkan dana untuk kegiatan sosial atau pembangunan di lingkungan sekitar.
Momen Heboh: "THR Seribu yang Bikin Haru"
Suasana yang awalnya formal penuh salam-salaman berubah menjadi riuh saat salah satu tuan rumah memberikan kejutan. Bukannya menyodorkan toples nastar atau kacang tojin, tuan rumah tersebut justru membagikan THR khusus untuk para Amak-amak.
Meskipun nilainya hanya Rp 1.000, namun karena uang tersebut merupakan pecahan baru yang masih "berbau bank" dan sangat jarang terjadi dalam tradisi ini, sontak suasana menjadi pecah.
"Biasanya kami cuma dapat kue dan minum saja, itu pun sudah senang. Tapi kali ini ada THR! Biar cuma seribu, tapi karena baru dan dapatnya bareng-bareng, rasanya luar biasa," ujar salah satu anggota rombongan sambil tertawa lebar.
Jadi Koleksi dan Kenang-kenangan
Uniknya, saking berkesannya momen tersebut, banyak diabadikan emak emak melalui ponselnya bahkan ada Amak-amak yang mengaku tidak akan membelanjakan uang seribu tersebut.
Disimpan di dompet: Sebagai jimat keberuntungan atau pengingat momen lucu.
Ada juga yang berencana sebagai pembatas Al-Qur'an:
Agar ingat momen Lebaran di Pandan Gadang.
Kenang-kenangan: Karena dianggap sebagai bentuk apresiasi yang unik dari warga kepada mereka.
Kejadian ini membuktikan bahwa kebahagiaan Lebaran di kampung tidak selalu diukur dari besarnya nominal, melainkan dari kebersamaan dan cara-cara kreatif warga dalam menghargai tradisi.===Gindo==
Share this Article
